Kamis, (06/08/2026) Mengutip dari CNBC Indonesia, melalui Wawancara CNBC International, Dimon mengatakan bahwa nilai margin debt dan bentuk pinjaman lainnya di pasar global telah meningkat cukup tinggi. Hal ini tentunya akan menimbulkan tekanan yang dapat meledak bagai bom waktu. Ia juga mengungkapkan bahwa banyak investor yang memanfaatkan leverage untuk meningkatkan nilai investasinya. Sayangnya, keputusan ini malah dapat menimbulkan tekanan yang lebih besar lagi
Ia juga menambahkan bahwa leverage yang dimanfaatkan juga cukup masif, tidak hanya dari pinjaman margin biasa saja namun juga melibatkan instrumen keuangan lainnya seperti prime brokerage, hedge fund, ETF, hingga strategi arbitrase obligasi pemerintah AS.
Peringatan Dimon tentang naiknya nilai wajar saham
Saat valuasi saham meningkat di level atas, disusul dengan hedge fund yang juga meningkat tajam, serta strategi arbitrase obligasi pemerintah AS yang juga semakin masif. Kombinasi ini memunculkan kekhawatiran serta tekanan yang semakin besar karena situasi yang beresiko tersebut. Ia juga berpendapat bahwa meningkatnya pemanfaatan leverage membuat kejatuhan satu investor maupun hedge fund menimbulkan guncangan yang meluas.
Pernyataan ini didukung dari kondisi mirip yang pernah terjadi dimana hedge fund berbasis AI (Kecerdasan Artifisial) oleh Situational Awareness milik Leopold Aschenbrenner terkena kerugian masif yang ditimbulkan dari taruhan sengit pada saham teknologi menggunakan dana pinjaman. Kerugian tersebut berujung pada margin call yang memaksa perusahaan menjual sebagian besar portofolio sahamnya.
Apakah Berpotensi Pengulangan Krisis 2008?
Meski begitu, CEO JP Morgan tersebut menyatakan bahwa kondisi saat ini belum sepenuhnya dapat dikatakan sebagai risiko sistemik seperti krisis keuangan yang pernah terjadi di tahun 2008. Ia menyampaikan bahwa krisis yang pernah terjadi di 2008 bukan hanya disebabkan oleh leverage yang meningkat namun juga besarnya kerugian yang diperoleh dari kredit perumahan yang mengguncang sistem keuangan. Ia juga menambahkan bahwa pengeluaran pemerintah yang besar bisa membuat harga-harga tetap naik, sehingga suku bunga dan imbal hasil obligasi tetap tinggi.