Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak, Usai AS Serang Iran Lagi
Selasa (1/9/2026) — Harga minyak dunia kembali melonjak tinggi, usai AS serang Pulau Larak, Iran yang berada di Selat Hormuz.
Selasa (1/9/2026) — Harga minyak dunia kembali melonjak tinggi, usai AS serang Pulau Larak, Iran yang berada di Selat Hormuz.
Dilansir dari CNN News, kembali merebaknya konflik antara AS dan Iran lagi-lagi berdampak pada harga minyak dunia yang melonjak tinggi. Serangan ini bermula saat AS menyerang Pulau Larak, Iran yang berada di Selat Hormuz. Menanggapi gencatan tersebut, Iran kemudian menyerang dua pangkalan udara milik AS yang berada di Yordania.
Bersumber dari Reuters, dikatakan bahwa harga minyak Brent melonjak sebanyak 56 sen atau 0.6 persen menjadi US$ 91.05 per barel. Selain itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak sebanyak 83 sen atau 1 persen menjadi US$86,59 per barel.
Trump yang mendesak akan mengirimkan kembali serangan terhadap Iran tentunya jadi pemicu lonjakan harga minyak ini. Respon tersebut muncul setelah Iran membalas serangan AS pada Minggu (30/8), aksi saling teror ini kembali terjadi untuk pertama kalinya dalam sebulan.
Peristiwa ini sebenarnya merupakan dampak dari ditutupnya jalur perairan yang melewati Selat Hormuz oleh Iran setelah sebelumnya AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari yang lalu. Perlu diketahui bahwa Selat Hormuz merupakan jalur krusial perdagangan minyak yang jadi pusat perlintasan global. Sebelum situasi perang memanas pada Februari yang lalu, diperkirakan bahwa ada sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut.
"Ini membawa potensi pembalasan Iran kembali ke dalam perhitungan. Hal itu kemudian meningkatkan prospek kerusakan terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz. Kedua risiko tersebut tercermin dalam penguatan harga minyak mentah," Ujar Chief Market Analyst KCM Tim Waterer.
Konflik ini cukup berdampak pada distribusi minyak. Ditemukan bahwa jumlah kapal komoditas yang melewati Selat Hormuz menjadi sekitar lima kapal per hari pada akhir pekan, berdasarkan data Kpler. Meresponi hal tersebut, beberapa negara termasuk Qatar dan Oman telah mencoba mediasi untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz ini nyatanya belum menemui titik terang.
Selain itu, sebelumnya Trump juga menegaskan bahwa AS telah menjalin sebuah kesepakatan untuk memperoleh pasokan minyak dari Venezuela sebagai negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Upaya ini diambil sebagai tindak lanjut dari ditutupnya jalur Selat Hormuz yang berdampak besar terhadap minyak dunia. Trump mengatakan bahwa minyak Venezuela tersebut nantinya akan dimanfaat untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau dikenal dengan Strategic Petroleum Reserve (SPR), yang saat ini berada dalam pasokan level terendah selama 44 tahun ini.
Anindita Rahmawati · 1 menit lalu
Dewi Kartika · 12 jam lalu
Dewi Kartika · 1 menit lalu